Senin, 25 Januari 2016

Dugaan Janggal Kematian Si Kembar

Suasana di meja lima puluh tujuh itu mendadak gaduh pada Rabu sore, 6 Januari lalu. Seorang wanita berkulit putih mendadak kejang-kejang. Mulutnya mengeluarkan busa, matanya melotot ke arah atas. Buru-buru tiga orang pelayan menyambangi meja itu. Satu pelayan mengusap bibir wanita itu karena selalu mengeluarkan busa.

Sementara, yg yang lain coba menolong menenangkan. Namun salah seorang diantara wanita duduk di meja itu tidak kelihatan panik, dia justru berteriak mempertanyakan kopi di atas meja yg sudah diminum rekannya itu. “Dia teriak sama manajer, ini minuman ditaruh apa kok teman aku sampai begini,” ujar seorang pelayan Kafe Olivier dirahasiakan namanya mengetahui kejadian itu ketika berbincang dengan merdeka.com dua waktu lalu. Awalnya wanita itu diduga mengidap epilepsi.

Belakangan setelah diketahui, nama wanita yg kejang-kejang itu adalah Wayan Mirna Salihin, 27 tahun. Karena rekannya mempertanyakan kopi yg disediakan, pihak Kafe Olivier akhirnya mengamankan gelas kopi diminum Mirna. Salah seorang pegawai Kafe menurut pelayan itu sempat mencicipi Es Kopi Vietnam yg dituding sebagai penyebab wanita itu kejang-kejang. Hasilnya, pelayan itu juga muntah-muntah. Bau kopinya berbeda dan menyengat hidung.

“Teman aku muntah-muntah,” ujar Pelayan itu.

Karena badannya selalu kaku, Mirna akhirnya dibawa ke sebuah Klinik di Gedung itu. Dia kemudian dibawa ke Rumah Sakit Abdi Waluyo bagi dikerjakan pertolongan, namun sayang nyawa wanita itu tak tertolong. Dia tewas setelah sebelumnya kejang-kejang mengeluarkan busa dan dalam keadaan kaku. Pihak Kafe Olivier tempat Mirna sebelumnya kejang-kejang telah berupaya membawa korban buat langsung dikerjakan pertolongan.

Menurut pelayan itu, tak ada yg aneh dengan kopi diminum oleh Mirna. Sebab, segala pelayanan penyediaan sudah memenuhi standar operasional bagi menjamu konsumen. Apalagi, Es Kopi Vietnam dipesan buat korban, memang disajikan segera dan diaduk dalam bentuk jadi di atas meja pengunjung. “Kalau es Vietnam memang begini menyajikannya, segera di depan pelanggan,” ujar pelayan itu menuturkan.

Adalah Jessica Kumala Wongso, orang disebut pelayan itu sempat ngotot menunjuk gelas kopi diminum Mirna. Jessica juga berdasarkan kode pemesanan adalah orang yg memesan tempat dan minuman buat Mirna dan Hani. Dua orang itu menurut informasi Kepolisian hadir selang hampir sejam setelah kopi maut itu dipesan oleh Jessica.

Kasus kematian Mirna usai meminum Es Kopi Vietnam di Kafe Olivier memang ramai dua pekan ini. Apalagi, setelah Kepolisian melakukan otopsi pada tubuh korban, ditemukan adanya kandungan racun berbahaya. Hasil forensik pada tubuh korban ditemukan kandungan sianida di dalam hati dan lambung. Kasus ini kemudian bergulir hingga dugaan seandainya korban tewas dibunuh.

Berdasarkan hasil rekonstruksi ulang dikerjakan Kepolisian dengan menghadirkan saksi-saksi, kronologi tewasnya di Mirna usai menyeruput Es Kopi Vietnam sama seperti dituturkan oleh pelayan Kafe. Dalam rekonstruksi digelar pada Senin 11 Januri lalu, Hani rekan yg tiba bersama korban menuturkan seandainya Mirna kejang-kejang tidak lama setelah menyeruput kopi.

Dalam keadaan gaduh itu, seorang pelayan kemudian mendatangi meja tempat di mana mereka duduk. Pelayan itu menurut Hani segera mengelap busa di mulut Mirna. Ad interim tiga orang pelayan lelaki yang lain menolong mengangkat tubuh Mirna ke atas kursi roda. Mirna kemudian dibawa ke klinik di gedung itu.

saat dibawa ke klinik itu, dokter yg kebetulan bertugas mempertanyakan riwayat kesehatan korban. Dokter sempat bertanya, apakah korban memiliki riwayat penyakit epilepsi. Hani kemudian segera menghubungi suami Mirna, Arief Sasongko. Kepada Arief, Hani mengabarkan tentang keadaan Mirna seandainya dia mengalami kejang-kejang dan tak sadarkan diri.

Arief menyarankan agar Mirna diberikan teh hangat, namun karena tak berani, Arief segera menuju ke klinik di mana Mirna dibawa. “Terus saya bilang enggak berani, dia telah kejang selalu mulutnya berbusa. Akhirnya suami Mirna bilang ‘oke ke sana’,” tutur Hani. Sayang setelah dibawa ke Rumah Sakit terdekat, Mirna tak tertolong. Dia tewas.

Belakangan setelah masalah ini ramai menjadi perbincangan, pihak Kepolisian kemudian merayu keluarga korban agar jasadnya langsung di otopsi. Apalagi Kepolisian juga tak mampu menyimpulkan kematian korban berdasarkan hasil Visum. Mirna memang menurut informasi keluarga tak memiliki riwayat penyakit. Atas saran itu juga akhirnya Kepolisian diberi kewenangan mengautopsi jasad Mirna.

Dari hasil otopsi dalam lambung korban ditemukan kandungan racun sianida. Kepolisian menduga Mirna tewas keracunan. Berangkat dari hasil otopsi itu, kemudian pihak Kepolisian memanggil saksi-saksi termasuk Jessica dan Hani, rekan korban yg terakhir bersama Mirna sebelum tewas.

Jessica, orang yg disebut memesan Es Kopi dan juga saksi kunci tewasnya Mirna telah dua kali menjalani pemeriksaan Kepolisian. Selain Jessica, Hani juga turut dimintai informasi bagi mengungkap misteri kematian Mirna. Selain beberapa rekannya, Kepolisian juga meminta informasi pegawai Kafe Oliver, orang tua Mirna dan suaminya buat melengkapi berkas pemeriksaan.

Pada kamis minggu kemarin, Arief suami Mirna mendatangi Mapolda Metro Jaya bagi dimintai keterangan. Dia tiba bersama dengan kembaran Mirna, Sendy Salihin. Namun keduanya menolak berkomentar terkait hasil pemeriksaan.

Direktur Kriminal Generik Polda Metro Jaya yg menangani masalah ini juga belum menentukan siapa tersangka dalam masalah misteri kematian Mirna. Sampai ketika ini, Kepolisian masih menunggu hasil forensik dan sample kopi yg diminum Mirna sebelum akhirnya tewas. “Jadi kalian tunggu dokumennya, karena kan informasi ahli. Keterangan ahli tertuang dalam berita acara dokumen hasil forensik, nah itu kita tunggu,” ujar Komisaris Besar krishna Murti kamis minggu kemarin.
Sumber: http://bit.ly/20cu3Tn



Sumber Artikel Dugaan Janggal Kematian Si Kembar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Dugaan Janggal Kematian Si Kembar